Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Viral! Warga RI Raib Ratusan Juta Gegara “Pajak” Palsu: Begini Modus Penipuan Coretax yang Mengincar Data Pribadi Anda

JAKARTA – Dunia maya kembali dihebohkan dengan aksi penipuan yang tak hanya meresahkan, tetapi juga menguras habis isi rekening korbannya.

Kali ini, modus operandi pelaku terbilang canggih dan terstruktur, memanfaatkan momen kebingungan publik terhadap sebuah platform baru: Coretax.

Seorang warga, melalui akun Instagram @mandharabrasika, membagikan kisah pilu bagaimana ia kehilangan uang hingga ratusan juta rupiah hanya dalam hitungan menit.

Kisah ini menjadi pengingat keras bagi kita semua untuk ekstra waspada terhadap modus phone scam yang semakin licin.

Awal Mula Jerat Penipu

Semuanya berawal dari sebuah panggilan telepon yang tampak resmi. Seseorang yang mengaku sebagai pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menghubungi korban.

Dengan nada meyakinkan, sang penipu memanfaatkan isu hangat seputar peluncuran platform Coretax. Mereka melontarkan narasi tentang “kesalahan data” atau “kegagalan sistem” pada akun pajak korban yang harus segera dibenahi.

Yang membuat modus ini sangat berbahaya adalah akurasi data pribadi yang disodorkan penipu. Mereka dengan lancar menyebutkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), alamat, hingga data spesifik lainnya yang biasanya hanya diketahui oleh pemiliknya dan instansi resmi.

Baca Juga : Sam Altman Buka Suara: AI Bisa Picu Krisis Penipuan Global

“Anehnya, mereka dengan lancar menyebut data-data yang tidak pernah kami publikasikan, NPWP dan sebagainya. Hal inilah yang membuat tim kami yakin bahwa yang menelepon adalah benar pegawai pajak,” ungkap pemilik akun @mandharabrasika dalam unggahannya, kemarin.

Jebakan Berbagi Layar dan Aplikasi Palsu

Setelah berhasil membangun kepercayaan, pelaku melancarkan serangan pamungkas. Korban diarahkan untuk mengklik sebuah tautan (link) yang dikirimkan via WhatsApp atau SMS, dengan dalih untuk mengunduh aplikasi pendukung Coretax atau formulir perbaikan data.

Aplikasi tiruan inilah yang menjadi pintu masuk petaka. Pelaku kemudian meminta izin untuk melakukan berbagi layar (share screen) dengan alasan membantu proses perbaikan.

Dengan fitur ini, penipu dapat memantau secara langsung segala aktivitas korban di ponsel, termasuk saat korban mengetik username, password mobile banking, atau PIN transaksi.

Dalam sekejap, data rahasia itu jatuh ke tangan yang salah. Tanpa perlu waktu lama, rekening korban pun dikuras hingga kosong.

Tekanan Psikologis: Senjata Ampuh Penipu

Selain kecanggihan teknis, pelaku juga seorang manipulator ulung. Mereka menciptakan situasi mendesak dan genting, seperti ancaman pemblokiran NPWP, denda besar, atau sanksi hukum jika korban tidak segera mengikuti instruksi mereka.

Tekanan psikologis ini sengaja diciptakan agar korban panik, takut, dan kehilangan akal sehat untuk berpikir jernih atau berkonsultasi dengan orang terdekat.

Nasib Laporan dan Imbauan untuk Masyarakat

Korban sendiri telah melaporkan kejadian ini ke pihak bank terkait, kepolisian, serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun, hingga saat ini, proses tersebut masih berjalan dan belum membuahkan hasil berarti. Uang yang raib seolah ditelan bumi.

Kisah nyata ini menjadi tamparan keras bagi kita semua. Direktorat Jenderal Pajak sendiri tidak pernah meminta data pribadi, mengirimkan tautan aplikasi, apalagi meminta kendali penuh atas ponsel Anda melalui fitur berbagi layar.

Lindungi Diri Anda: Panduan Anti-Tipu

Agar Anda tidak menjadi korban berikutnya, ingatlah selalu langkah-langkah pencegahan berikut:

1. Jangan Mudah Percaya

Setiap panggilan dari nomor tidak dikenal yang mengaku sebagai institusi resmi dan meminta data pribadi adalah sinyal bahaya.

2. Jangan Klik Sembarangan

Abaikan dan hapus tautan mencurigakan yang dikirim via aplikasi perpesanan, apa pun iming-iming atau ancamannya.

3. Jangan Pernah Berbagi Layar

Tidak ada satu pun institusi resmi yang akan meminta Anda mengaktifkan fitur berbagi layar untuk “membantu” proses administrasi.

4. Verifikasi dan Konfirmasi

Jika ragu, tutup telepon dan hubungi sendiri instansi terkait melalui saluran resmi (call center atau kantor cabang) untuk memastikan kebenarannya.

5. Garda Terdepan adalah Diri Sendiri

Jangan biarkan tekanan psikologis menguasai Anda. Beri waktu untuk berpikir dan bertanya pada orang yang lebih paham.

Jangan biarkan kisah ini hanya menjadi viral tanpa makna. Sebarkan informasi ini kepada keluarga dan teman-teman Anda. Dengan saling mengingatkan, kita bisa memutus mata rantai kejahatan ini. Hati-hati di dunia maya, waspada selalu adalah kunci utama! (CNBC)

Share: